Judul : Upacara
Isbn : 979-419-181-7
EIsbn : 978-979-419-599-4
Penerbit : Dunia Pustaka Jaya
Tahun terbit : Cetakan pertama 1976
Sebelumnya untuk review novel ini mohon diluruskan jika ada kesalahan penangkapan cerita atau apa pun.
Upacara adalah novel pertama yang saya baca karya Korrie Layun Rampan. Memiliki bahasa yang menurut saya tinggi. Butuh waktu khusus untuk membaca novel dengan ketebalan kurang dari 150 halaman ini.
Novel ini memiliki diksi-diksi yang indah juga banyak diksi baru yang saya temui. Bahkan sejak awal membaca novel ini saya harus bolak-balik buka KBBI ataupun tesasaurus. Selain indah, novel kaya diksi ini mencerdaskan, banyak istilah daerah yang dipakai.Jika dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari kamu bisa mempelajari tradisi Jawa dari sebuah novel, maka membaca novel upacara akan mengajakmu berkelana dalam kebudayaan orang Benuaq (Dayak).
Pertama saya akan menyoroti alur cerita, dalam novel ini alur yang dipakai tak jauh berbeda dengan novel romance pada umumnya yang membedakan adalah pembawaan ceritanya, diksi yang menjadi ciri khasnya. Memiliki ending yang sederhana tapi mengena. Yang membuat proses bersatunya tokoh aku dengan Ifling menjadi istimewa adalah peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh ‘Aku’ sebelumnya.
Mengenai isi cerita, novel pemenang dalam kompetisi DKJ 1976 ini membawa pembaruan pada masanya, lokalitasnya kental sekali. Novel upacara ini menceritakan perjalanan spiritual ‘Aku’ yang hidup dalam sebuah masyarakat Benuaq—Dayak pedalaman Kalimantan.
Lahir, besar dan menjadi bagian dari suku Dayak mau tak mau harus mengikuti berbagai upacara adat baik berhubungan langsung dengan dirinya atau orang lain sebagai perwujudan kebaktian.
Setidaknya ada empat upacara besar yang dipaparkan dalam novel ini di antaranya; upacara Balian (upacara yang dilakukan oleh seorang dukun dalam hubungannya dengan nasuq juus untuk pencarian jiwa yang hilang); upacara kwangke (Penguburan tulang-belulang); upacara nulin taun (upacara tahunan memuja para leluhur-dewa-agar dihindarkan dari malapetaka dan dosa)
Selain itu ada pula upacara kecil lain seperti ompong, sentean, ngejangkat, tempong pusong dll.
Dalam setiap upacara penulis mampu menggambarkan dengan detil membuat pembaca larut. Ketika beranjak dewasa kedatangan Tuan Smith (orang luar) membawa pengaruh modern membuat tokoh ‘Aku’ mengalami konfrontasi pikiran, pergolakan batin dan mulai meragukan dan timbul berbagai pertanyaan apakah hidup itu harus dilalui dengan upacara? Atau upacara adalah hidup itu sendiri.
Dari kesangsian-kesangsian itu pula tokoh Aku tak percaya lagi dengan Balian/dukun, mitos bahwa setiap gadis yang dicintai Aku akan mati muda (Wening dan Rei) karena kutukan. Di akhir cerita tokoh Aku dengan mantap tetap menikahi Ifling (adik Wening) karena tak ada seorang pun dapat mengetahui kematian seorang kecuali Tuhan Yang Maha Esa.
Saya merasakan kenikmatan tersendiri membaca novel ini. Dari kisah percintaan, kita bisa merasa apa yang di rasakan si Aku, kegalauan, kebingungan-kebingungan si Aku, bahkan di beberapa titik kita bisa merasakan kalau kita adalah si Aku sendiri.
Korrie mampu menghanyutkan dan meremas perasaan pembaca dengan diksinya. Secara implisit novel ini pun memberitahukan bahwa Mitos upacara – upacara yang tak dapat dijangkau dengan rasional karena banyak hal gaib di dalamnya serta biaya yang begitu banyaknya untuk upacara – upacara itu sendiri adalah suatu yang sia-sia.
Kesimpulannya novel ini sangat menarik, bahasanya indah, di ending penulis mampu membuat pembaca menerka-nerka apakah si Aku dan Ifling bahagia sampai menua dan mematahkan mitos atau justru Ifling mati muda juga. Novel ini sangat direkomendasikan karena selain menghibur, banyak nilai dapat diambil, mencerdaskan.
Rate 4,75/5

Tidak ada komentar:
Posting Komentar