Minggu, 08 Desember 2019

Review Novel Laut Bercerita

Review Novel Laut Bercerita

Judul : Laut Bercerita
Penulis : Leila S Chudori
Isbn : 978-602-424-624-5
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit : 2017.




“Pengkhianatan ada di mana-mana bahkan di depan hidung kita, Laut kita tak pernah tahu dorongan setiap orang berkhianat: bisa saja duit, kekuasaan, dendam, atau sekadar rasa takut tekanan penguasa,” kata Bram mengangkat bahu. “Kita harus belajar kecewa bahwa orang yang kita percaya ternyata memegang pisau dan menusuk punggung kita. Kita tak bisa berharap semua orang akan selalu loyal pada perjuangan dan persahabatan.” Laut bercerita—halaman 31.

Laut Bercerita adalah novel karangan Leila S Chudori yang pernah difilmkan oleh yayasan Dian Sastrowardoyo. Pertama dilihat dari penulis menyampaikan cerita dalam plot yang sangat rapi meski menggunakan alur maju mundur.
Penulis tak hanya mampu menyayat pembaca dengan deskripsinya bahkan mengoyak perasaan pembaca—saya.

Di prolog novel ini langsung wah dengan penyajian yang membuat pembaca merinding disko. Benar-benar langsung ingin mengulik apa yang terjadi di bab berikutnya. Page turnernya halus. Setiap tokoh memiliki kebiasaan unik yang bisa diingat dengan mudah meski tokoh cerita ini sangat banyak.

Laut Bercerita memberi saya pengalaman membaca yang tak terlupakan dari sensasi yang ditimbulkan ketika dan setelah membaca. Riset tentang kejadian penyiksaan tahun 1998 di novel ini sangat terasa. Dari setiap kejadian, tenggat waktu tak ada yang sia-sia. Penggambaran ketegangan di tahun itu begitu terasa.

Ini adalah kematian yang tidak sederhana. Terlalu banyak kegelapan dan terlalu penuh dengan kepedihan.
Kegelapan yang kumaksud adalah karena kau tak tahu aku ada di sini dan mencari-cari dimana aku berada. Karena itu bayangkan saja, namaku Laut, di sanalah tempatku. Di dasar yang gelap, sunyi, diam dan tanpa suara. Menurut sang penyair kita jangan pernah takut pada gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pada setiap gelap selalu ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong, demikian ujarnya. Tapi janganlah kita tenggelam dalam kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputusasaan dan rasa sia-sia—halaman 364.

Laut Bercerita memiliki ending yang landai dan memikat. Saya sempat berpikir tak akan menemukan hal menarik setelah mencapai konflik utama ternyata saya salah.

Di bab akhir sangat jelas digambarkan keadaan  para korban, orang tua dan keluarga yang masih gigih mencari kebenaran dengan berbagai penyangkalan hingga akhirnya mereka menemukan cara melanjutkan kehidupan setelah melalui trauma panjang yang tak berkesudahan. Endingnya menjadi sangat manis karena serentetan kejadian yang terjadi sebelumnya.

Laut Bercerita menceritakan secara tersirat kritik terhadap pemerintahan order baru. Romansa dalam novel ini juga terasa.
Ini bacaan yang sangat kurekomendasikan buat kalian.
Sayangnya di novel ini tak menguak lebih dalam tentang Naratama dan Kinanti. Namun, tak mengurangi nilai cerita karena memang novel memiliki keterbatasan halaman.

Rate : 4, 5/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar