Sabtu, 30 November 2019
Review Novel- Ketika Sakura Mekar
Judul : Ketika Sakura Mekar.
Penulis : Fiane N Setiadi.
Penerbit : KMC publisher. Penerbit Ujwart Media.
Isbn : 978-623-7055-68-6.
Tahun terbit : Cetakan pertama Juli 2019
Jumlah halaman : 285.
Dua alasan sebuah pernikahan dapat bertahan; kekuatan niat dan komitmen suami istri—Ketika Sakura Mekar halaman 2.
“Sejak awal mendampingi Bang Robby aku tidak bahagia. Saat aku butuh seseorang, dan mengharapkannya, dia tak pernah ada. Kalaupun ada, dia tak menganggap perasaanku dengan serius.” Halaman 276.
Novel ini karya beliau yang saya baca pertama kali. Menceritakan kisah sebuah keluarga Shopie dan Robby. Pada bab awal akan disuguhi konflik ringan sebagai pemantik konflik-konflik selanjutnya.
Penulis mampu menggambarkan perasaan yang terdapat dalam tokoh-tokohnya dengan baik. Dengan sudut pandang orang pertama, Kak Fiane berhasil menyeret pembaca memahami keadaan dan perasaan tokoh.
Ketika kita-saya-membaca POV Shopie mau pun Roby sangat kentara perbedaannya. Ini berhasil karena cara berpikir laki-laki dan perempuan sejatinya tak sama. Saya pribadi membaca POV Shopie seakan sedang bercermin. Begitulah sudut pandang wanita.
Bunyi ponsel menyelamatkanku dari ocehan mama—hal 29.
Begitulah penulis tanpa tedeng aling-aling menulis apa adanya bukan apa yang seharusnya. Tidak semua bisa menulis seperti ini, menabrak batasan-batasan mungkin akan menimbulkan asumsi negatif.
Plot yang di sajikan tertata dengan rapi meski terjadi pergantian POV Robby dan Shopie tidak menyebabkan alur berulang atau berlipat-lipat yang kadang membuat saya melewati adegan tersebut.
Penulis mampu mengupas tuntas sisi rentan Shopie sebagai istri dan Robby sebagai seorang suami.
Hanya saja pada halaman 273. “Pergi ke luar kamar dari sini, bukankah itu yang kamu ingin aku lakukan?” Sergahku dingin—POV Robby.
Pada kalimat di atas, saya membaca sampai tiga kali. Mungkin bisa disederhanakan. “Pergi dari sini, bukankah itu yang kamu inginkan?”
“Tidak, Ma. Aku yakin Bang Robby bukan orang seperti itu,” jawab Shopie. Pada akhirnya dia mengeluarkan suara walau serak.
Pada bagian penyelesaian ada yang menurut saya sedikit mengganggu. Padahal sebelumnya sudah berbicara cukup banyak. Namun, tak begitu bermasalah karena tak terlalu berpengaruh terhadap alur.
Ada beberapa Typo yang saya jumpai, penulisan nama Shopie.
Shopie menjadi Soophie—halaman 278. Ini terletak di awal paragraf jadi langsung terekspos.
Pada halaman yang sama Shopie menjadi Sophie.
Kesimpulannya, buku ini layak untuk dibaca berbagai kalangan, topik yang diangkat tidak stereotip. Banyak nilai yang dapat diambil bagi seorang suami, istri, mertua, semua turut andil di mana jika keseimbangan peran terganggu, semua akan goncang dan jauh dari kesempurnaan.
Buku ini rekomend banget buat kamu yang cari bacaan bergizi.
Rate 4.25/5
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar