Sabtu, 30 November 2019
Review Novel- Ketika Sakura Mekar
Judul : Ketika Sakura Mekar.
Penulis : Fiane N Setiadi.
Penerbit : KMC publisher. Penerbit Ujwart Media.
Isbn : 978-623-7055-68-6.
Tahun terbit : Cetakan pertama Juli 2019
Jumlah halaman : 285.
Dua alasan sebuah pernikahan dapat bertahan; kekuatan niat dan komitmen suami istri—Ketika Sakura Mekar halaman 2.
“Sejak awal mendampingi Bang Robby aku tidak bahagia. Saat aku butuh seseorang, dan mengharapkannya, dia tak pernah ada. Kalaupun ada, dia tak menganggap perasaanku dengan serius.” Halaman 276.
Novel ini karya beliau yang saya baca pertama kali. Menceritakan kisah sebuah keluarga Shopie dan Robby. Pada bab awal akan disuguhi konflik ringan sebagai pemantik konflik-konflik selanjutnya.
Penulis mampu menggambarkan perasaan yang terdapat dalam tokoh-tokohnya dengan baik. Dengan sudut pandang orang pertama, Kak Fiane berhasil menyeret pembaca memahami keadaan dan perasaan tokoh.
Ketika kita-saya-membaca POV Shopie mau pun Roby sangat kentara perbedaannya. Ini berhasil karena cara berpikir laki-laki dan perempuan sejatinya tak sama. Saya pribadi membaca POV Shopie seakan sedang bercermin. Begitulah sudut pandang wanita.
Bunyi ponsel menyelamatkanku dari ocehan mama—hal 29.
Begitulah penulis tanpa tedeng aling-aling menulis apa adanya bukan apa yang seharusnya. Tidak semua bisa menulis seperti ini, menabrak batasan-batasan mungkin akan menimbulkan asumsi negatif.
Plot yang di sajikan tertata dengan rapi meski terjadi pergantian POV Robby dan Shopie tidak menyebabkan alur berulang atau berlipat-lipat yang kadang membuat saya melewati adegan tersebut.
Penulis mampu mengupas tuntas sisi rentan Shopie sebagai istri dan Robby sebagai seorang suami.
Hanya saja pada halaman 273. “Pergi ke luar kamar dari sini, bukankah itu yang kamu ingin aku lakukan?” Sergahku dingin—POV Robby.
Pada kalimat di atas, saya membaca sampai tiga kali. Mungkin bisa disederhanakan. “Pergi dari sini, bukankah itu yang kamu inginkan?”
“Tidak, Ma. Aku yakin Bang Robby bukan orang seperti itu,” jawab Shopie. Pada akhirnya dia mengeluarkan suara walau serak.
Pada bagian penyelesaian ada yang menurut saya sedikit mengganggu. Padahal sebelumnya sudah berbicara cukup banyak. Namun, tak begitu bermasalah karena tak terlalu berpengaruh terhadap alur.
Ada beberapa Typo yang saya jumpai, penulisan nama Shopie.
Shopie menjadi Soophie—halaman 278. Ini terletak di awal paragraf jadi langsung terekspos.
Pada halaman yang sama Shopie menjadi Sophie.
Kesimpulannya, buku ini layak untuk dibaca berbagai kalangan, topik yang diangkat tidak stereotip. Banyak nilai yang dapat diambil bagi seorang suami, istri, mertua, semua turut andil di mana jika keseimbangan peran terganggu, semua akan goncang dan jauh dari kesempurnaan.
Buku ini rekomend banget buat kamu yang cari bacaan bergizi.
Rate 4.25/5
Jumat, 29 November 2019
Bingung Memilih Bacaan yang Cocok Sesuai Usia? 5 Tips ini Bisa Momy Coba.
Bingung Memilih Bacaan yang Cocok Sesuai Usia? 5 Tips ini Bisa Momy Coba.
Pada dasarnya semua orang tua menginginkan anak-anak berkembang dengan baik sesuai usianya. Tak jarang orang tua memberinya berbagai bacaan guna menambah kosa kata dan wawasan mereka. Namun, tidak sedikit orang tua kerap bingung memilih bacaan yang sesuai dengan usia mereka.
Bahkan ada beberapa tipe orang tua memberi bacaan yang belum sesuai dengan usianya. Justru menghambat perkembangan otaknya dalam mencerna pada saat usia bertambah.
Memberi bacaan terlalu cepat atau lambat tak membuat otak bekerja efisien. Misalnya anak tiga tahun sudah di beri buku dengan tulisan yang padat tentu tak sesuai dengan kapasitas otaknya. Begitu pula anak usia sembilan tahun diberi bacaan tak sedikit pun ada tulisan hanya gambar-gambar tentu tak sesuai dengan usianya. Berikut 5 Tips memilih buku bacaan yang tepat berdasar usia anak.
1. Usia 0-12 bulan.
Pada usia 0-12 bulan enggak salah dikasih buku bacaan? Kan masih belum mengerti apa-apa, belum paham apa pun. Justru itu uniknya, kemurnian seorang bayi yang masih kosong seperti flashdisk kitalah sebagai orang tua wajib mengisinya dengan membiasakan membaca dongeng sebelum tidur. 1000 hari pertama perkembangan seorang bayi masa gold ini kita manfaatkan sebaik mungkin agar si kecil mendengar banyak kosa kata baru.
2. Usia Batita.
Usia di bawah tiga tahun atau lebih dikenal dengan sebutan batita sangat baik bagi kita mengenalkan sebuah buku kepada anak. Pilih buku yang tidak memiliki permukaan kasar agar anak tak terluka. Juga buku jangan terlalu tipis agar buku tak rusak. Pilihlah buku terbuat dari bantal tipis atau kain tebal seperti kain flanel. Pada usia ini pilihlah buku bergambar dan berwarna cerah. Jangan terlalu tebal karena anak akan lekas bosan.
3. Usia prasekolah.
Pada usia ini penting sekali memberi bacaan yang cocok sesuai usianya. Usia prasekolah membutuhkan bacaan yang mempersiapkan dirinya memasuki dunia baru yaitu dunia sekolah. Anak-anak usia ini masih perlu buku dengan gambar disertai sedikit tulisan karena target mereka bukan membaca tetapi mengenal sebuah buku. Pada usia ini anak-anak sudah bisa diberi buku-buku berbahan kertas tebal agar tak mudah rusak. Gambar dengan warna-warna menarik.
4. Usia Sekolah Dasar.
Pada usia sekolah membaca buku adalah bekal utama. Bisa dibayangkan sekolah tanpa membaca? Mustahil, bukan. Mengenalkan buku sejak dini akan menumbuhkan rasa cinta membaca. Masa ini anak-anak bisa membaca dalam durasi yang cukup lama. Anak-anak bisa disuguhi cerpen. Cerita rakyat, dongeng dan legenda. Tentu saja selain buku fiksi diimbangi membaca nonfiksi—buku pelajaran. Secara umum, usia ini bisa memelihara buku. Meski begitu tak sembarang buku kita bisa pilih buku dengan Hard cover agar tak mudah rusak.
5. Remaja.
Memilih bacaan yang cocok sesuai dengan usia remaja bukan fokus pada fisik buku melainkan fokus pada konten/isi buku. Sebagai orang tua kita yang wajib mengontrol jenis bacaan apa yang sesuai usianya. Misalnya dengan memperhatikan peringatan usia minimal yang tertera pada sampul misalnya 15+,17+, 21+ dll. Sampai mereka bisa menentukan sendiri yang terbaik menurut mereka.
Lima Tips di atas dapat momi terapkan dalam memilih bacaan yang cocok sesuai usia. Apakah sudah menerapkannya dalam memilih bacaan yang cocok sesuai usia?
Pada dasarnya semua orang tua menginginkan anak-anak berkembang dengan baik sesuai usianya. Tak jarang orang tua memberinya berbagai bacaan guna menambah kosa kata dan wawasan mereka. Namun, tidak sedikit orang tua kerap bingung memilih bacaan yang sesuai dengan usia mereka.
Bahkan ada beberapa tipe orang tua memberi bacaan yang belum sesuai dengan usianya. Justru menghambat perkembangan otaknya dalam mencerna pada saat usia bertambah.
Memberi bacaan terlalu cepat atau lambat tak membuat otak bekerja efisien. Misalnya anak tiga tahun sudah di beri buku dengan tulisan yang padat tentu tak sesuai dengan kapasitas otaknya. Begitu pula anak usia sembilan tahun diberi bacaan tak sedikit pun ada tulisan hanya gambar-gambar tentu tak sesuai dengan usianya. Berikut 5 Tips memilih buku bacaan yang tepat berdasar usia anak.
1. Usia 0-12 bulan.
Pada usia 0-12 bulan enggak salah dikasih buku bacaan? Kan masih belum mengerti apa-apa, belum paham apa pun. Justru itu uniknya, kemurnian seorang bayi yang masih kosong seperti flashdisk kitalah sebagai orang tua wajib mengisinya dengan membiasakan membaca dongeng sebelum tidur. 1000 hari pertama perkembangan seorang bayi masa gold ini kita manfaatkan sebaik mungkin agar si kecil mendengar banyak kosa kata baru.
2. Usia Batita.
Usia di bawah tiga tahun atau lebih dikenal dengan sebutan batita sangat baik bagi kita mengenalkan sebuah buku kepada anak. Pilih buku yang tidak memiliki permukaan kasar agar anak tak terluka. Juga buku jangan terlalu tipis agar buku tak rusak. Pilihlah buku terbuat dari bantal tipis atau kain tebal seperti kain flanel. Pada usia ini pilihlah buku bergambar dan berwarna cerah. Jangan terlalu tebal karena anak akan lekas bosan.
3. Usia prasekolah.
Pada usia ini penting sekali memberi bacaan yang cocok sesuai usianya. Usia prasekolah membutuhkan bacaan yang mempersiapkan dirinya memasuki dunia baru yaitu dunia sekolah. Anak-anak usia ini masih perlu buku dengan gambar disertai sedikit tulisan karena target mereka bukan membaca tetapi mengenal sebuah buku. Pada usia ini anak-anak sudah bisa diberi buku-buku berbahan kertas tebal agar tak mudah rusak. Gambar dengan warna-warna menarik.
4. Usia Sekolah Dasar.
Pada usia sekolah membaca buku adalah bekal utama. Bisa dibayangkan sekolah tanpa membaca? Mustahil, bukan. Mengenalkan buku sejak dini akan menumbuhkan rasa cinta membaca. Masa ini anak-anak bisa membaca dalam durasi yang cukup lama. Anak-anak bisa disuguhi cerpen. Cerita rakyat, dongeng dan legenda. Tentu saja selain buku fiksi diimbangi membaca nonfiksi—buku pelajaran. Secara umum, usia ini bisa memelihara buku. Meski begitu tak sembarang buku kita bisa pilih buku dengan Hard cover agar tak mudah rusak.
5. Remaja.
Memilih bacaan yang cocok sesuai dengan usia remaja bukan fokus pada fisik buku melainkan fokus pada konten/isi buku. Sebagai orang tua kita yang wajib mengontrol jenis bacaan apa yang sesuai usianya. Misalnya dengan memperhatikan peringatan usia minimal yang tertera pada sampul misalnya 15+,17+, 21+ dll. Sampai mereka bisa menentukan sendiri yang terbaik menurut mereka.
Lima Tips di atas dapat momi terapkan dalam memilih bacaan yang cocok sesuai usia. Apakah sudah menerapkannya dalam memilih bacaan yang cocok sesuai usia?
Review Novel La Barka karangan N.H. DINI.
Judul : La Barka.
Penulis : NH. Dini.
Isbn : 978-979-22-5439-6
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama.
Tahun cetak : cetakan pertama tahun 1975.
Aku seharusnya tidak bermimpi terus-terusan tentang kehidupan yang sering kita bicarakan bersama. Di dalam kamar tenang dan menentramkan itu, aku akan mencoba menyusun kejadian-kejadian yang kualami dan yang telah kujanjikan akan kuceritakan padamu—La Barka halaman 9.
Penulis sangat menekankan riset tentang lokasi hingga La Barka dapat dirasakan secara nyata oleh pembaca.
Di awal bab sejujurnya saya kurang tertarik dengan opening cuaca, mungkin karena ini terbitan tahun 1975-an pada masalah opening seperti ini sangat lumrah bahkan bisa dikatakan trend juga sesuai tema yang diangkat sebuah tempat yang disebut La Barka yaitu suatu rumah di sebuah desa di Perancis Selatan. Tetapi, di bab selanjutnya penulis mengisahkan tentang aku yang sedang menunggu masa perceraiannya.
Penulis mampu mengemas dalam sudut pandang yang unik. Pada bagian di mana penulis menujukan kepada ‘engkau’ feelnya dapet banget.
Namun meskipun demikian, aku masih belum benar-benar sanggup menyentak kan kau dari lubuk hatiku. Segalanya terbayang dengan sendirinya. Semua ucapan yang kau ucapkan kepadaku mendengung dan mendapatkan persetujuan dari balik kalbuku. Sekali-kali kau hanyut jika Robert melabuhkan pandangannya yang melumatkan semua dayaku, jika pemuda itu mencuri beberapa kebebasan untuk menggugah api nafsuku. Tetapi kau selalu ada dalam diriku. Kehadiran yang tak tersentuh ditambah dengan dasar setia dari ajaran yang kuterima, kau memenjarakanku di lingkungan yang tidak pasti hingga di mana garis akhirnya—halaman 231.
“Kau benar. Tapi setidak-tidaknya kau dapat berkata kau suka kepadanya atau tidak.” Halaman 31.
Saya kurang nyaman membaca bagian ini karena ada tiga kata kau yang terlalu berdekatan.
Karakter aku yang labil sangat realistis seperti wanita pada umumnya. Hingga kegalauan tokoh aku begitu terasa.
Untuk ukuran buku harian, tokoh yang dibahas sangat banyak walaupun saling berkaitan, beberapa kali saya kehilangan fokus.
Ada salah ketik di halaman 36 kata tinggal tertulis ‘tingggal’.
Pada halaman 128 pada kata melihat tertulis mellihat.
Pada halaman 147 Shopie tertulis Shopi.
Kelebihan satu tanda titik (.) Di halaman 178.
Namun, tak begitu kentara dan tak terlalu berpengaruh dalam cerita.
Untuk kamu yang tengah mencari bacaan, La Barka cukup manis bisa jadi opsi. Endingnya landai. Tapi, membekas.
Rate 3.5/5
Judul : La Barka.
Penulis : NH. Dini.
Isbn : 978-979-22-5439-6
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama.
Tahun cetak : cetakan pertama tahun 1975.
Aku seharusnya tidak bermimpi terus-terusan tentang kehidupan yang sering kita bicarakan bersama. Di dalam kamar tenang dan menentramkan itu, aku akan mencoba menyusun kejadian-kejadian yang kualami dan yang telah kujanjikan akan kuceritakan padamu—La Barka halaman 9.
Penulis sangat menekankan riset tentang lokasi hingga La Barka dapat dirasakan secara nyata oleh pembaca.
Di awal bab sejujurnya saya kurang tertarik dengan opening cuaca, mungkin karena ini terbitan tahun 1975-an pada masalah opening seperti ini sangat lumrah bahkan bisa dikatakan trend juga sesuai tema yang diangkat sebuah tempat yang disebut La Barka yaitu suatu rumah di sebuah desa di Perancis Selatan. Tetapi, di bab selanjutnya penulis mengisahkan tentang aku yang sedang menunggu masa perceraiannya.
Penulis mampu mengemas dalam sudut pandang yang unik. Pada bagian di mana penulis menujukan kepada ‘engkau’ feelnya dapet banget.
Namun meskipun demikian, aku masih belum benar-benar sanggup menyentak kan kau dari lubuk hatiku. Segalanya terbayang dengan sendirinya. Semua ucapan yang kau ucapkan kepadaku mendengung dan mendapatkan persetujuan dari balik kalbuku. Sekali-kali kau hanyut jika Robert melabuhkan pandangannya yang melumatkan semua dayaku, jika pemuda itu mencuri beberapa kebebasan untuk menggugah api nafsuku. Tetapi kau selalu ada dalam diriku. Kehadiran yang tak tersentuh ditambah dengan dasar setia dari ajaran yang kuterima, kau memenjarakanku di lingkungan yang tidak pasti hingga di mana garis akhirnya—halaman 231.
“Kau benar. Tapi setidak-tidaknya kau dapat berkata kau suka kepadanya atau tidak.” Halaman 31.
Saya kurang nyaman membaca bagian ini karena ada tiga kata kau yang terlalu berdekatan.
Karakter aku yang labil sangat realistis seperti wanita pada umumnya. Hingga kegalauan tokoh aku begitu terasa.
Untuk ukuran buku harian, tokoh yang dibahas sangat banyak walaupun saling berkaitan, beberapa kali saya kehilangan fokus.
Ada salah ketik di halaman 36 kata tinggal tertulis ‘tingggal’.
Pada halaman 128 pada kata melihat tertulis mellihat.
Pada halaman 147 Shopie tertulis Shopi.
Kelebihan satu tanda titik (.) Di halaman 178.
Namun, tak begitu kentara dan tak terlalu berpengaruh dalam cerita.
Untuk kamu yang tengah mencari bacaan, La Barka cukup manis bisa jadi opsi. Endingnya landai. Tapi, membekas.
Rate 3.5/5
Minggu, 24 November 2019
Inilah 8 Pelukis Renaissance Italia yang Wajib Kamu Tahu.
Inilah 8 Pelukis Renaissance Italia yang Wajib Kamu Tahu.
Perubahan peradaban kebudayaan di Eropa pada abad 14 dan 16, ditandai dengan Renaissance Italia. Pada masanya memunculkan sejumlah pelukis Renaissance Italia yang mulai menunjukkan ketertarikan pada keindahan alam dan tubuh manusia. Meski memasuki era modern, Pelukis Renaissance berperan penting dalam perkembangan dalam lukis-melukis dan tak dapat dipisahkan dari sejarah peradaban seni di Eropa. Inilah 7 Pelukis Renaissance Italia yang wajib kamu tahu.
1. Leonardo da Vinci
Meski Leonardo da Vinci memiliki keahlian berbagai seni, Leonardo da Vinci dianggap sebagai perwujudan idealisme humanis renaissance. Dilahirkan di luar nikah oleh seorang notaris dan wanita petani dari Republik Florance. Leonardo da Vinci menghabiskan tahun-tahun perkembangannya dalam bengkel lukis Andrea del Verroccio. Dua lukisan paling di kenal adalah Mona Lisa dan Perjamuan Terakhir.
2. Raffaello Sanzio
Lahir di Urbino oleh seorang pelukis terkenal di istana bernama Giovani Santi. Raffaello merupakan murid dari Pietro Perugino. Karya-karyanya dipamerkan oleh pelukis ternama Andrea Mantegna dan Piero della Francesca. Dua karyanya yang paling terkenal adalah Madonna dan Potretnya.
3. Tiziano Vacellio
Tiziano Vacellio atau dikenal dengan nama Titian. Titian banyak melukis orang-orang terkemuka selama kariernya di antaranya, Paus Paulus III hingga Kaisar Romawi Suci Charles V. Titian merupakan seniman terbesar abad 16. Selain melukis dia mahir dalam potret-memotret. Ketika remaja dia bekerja pada Giovanni Belini. Dia melukis agar mendapat royalti di seluruh Eropa di antaranya Raja Philips II dari Spanyol.
4. Michelangelo.
Layaknya Leonardo da Vinci, Michelangelo ahli dalam perdagangan artistik merupakan pemimpin lukisan di antara mereka. Kejadian di Langit-langit dan Penghakiman Terakhir adalah lukisan dinding di Kapel Sistina Vatikan. Michelangelo menyelesaikan fresco megah di Langit-langit kapel dalam kurun waktu empat tahun. Merupakan lukisan dinding yang mengesankan sepanjang sejarah seni Barat.
5. Sandro Botticelli.
Rincian kehidupannya sangat langka. Dia tergabung dalam sekolah Florentine dan magang di bawah Fra Fillippo Lippi dan juga dipengaruhi oleh lukisan monumental Masaccio. Kelahiran Venesia serta Primavera adalah dua lukisan yang di letakkan di Galeri Uffizi Florence. Lukisan itu menggambarkan adegan mitologis. Dua lukisan yang paling di kenal. Selain itu lukisan lain di antaranya, Madonna dan anak, altarpieces dan lukisan-lukisan seukuran tubuhnya yang sangat popular semasa hidupnya.
6. Masaccio
Meski hidup sebentar, Masaccio meninggalkan jejak tak ter hapuskan. Masaccio dilahirkan tahun 1401, dengan keahliannya menghidupkan kembali sosok dan gerakan manusia, dan pendekatannya terhadap perspektif dia sangat berkontribusi dalam melukis. Masaccio dianggap sebagai pelukis renaissance dan pelopor pelukis era modern.
7. Jacopo Comin
Jacopo Comin atau lebih dikenal dengan sebutan Tintoretto karena ayahnya seorang dyer atau dalam bahasa Italia Tintore. Dia mendapat julukan lain Il Furiosso untuk kemarahan yang dia gunakan untuk melukis. Dia dipengaruhi sesama penggunaan warna Titian Venian, serta bentuk energik yang diciptakan oleh Michelangelo. Karya-karyanya memiliki ciri khas pencahayaan dramatis, daya cipta mereka, penggunaan gerakan—narasi berskala besar Perenderannya Perjamuan Terakhir.
8. Giovanni Belini
Anak dari Jacopo. Dia merevolusikan lukisan di wilayah Venesia. Dengan cat minyak cepat kering dia menghasilkan corak yang kaya dan Shading yang detil yang mempengaruhi pelukis lain.
Itulah 8 pelukis renaissance Italia yang
wajib kamu tahu. Sudahkah kamu mengetahuinya?
Perubahan peradaban kebudayaan di Eropa pada abad 14 dan 16, ditandai dengan Renaissance Italia. Pada masanya memunculkan sejumlah pelukis Renaissance Italia yang mulai menunjukkan ketertarikan pada keindahan alam dan tubuh manusia. Meski memasuki era modern, Pelukis Renaissance berperan penting dalam perkembangan dalam lukis-melukis dan tak dapat dipisahkan dari sejarah peradaban seni di Eropa. Inilah 7 Pelukis Renaissance Italia yang wajib kamu tahu.
1. Leonardo da Vinci
Meski Leonardo da Vinci memiliki keahlian berbagai seni, Leonardo da Vinci dianggap sebagai perwujudan idealisme humanis renaissance. Dilahirkan di luar nikah oleh seorang notaris dan wanita petani dari Republik Florance. Leonardo da Vinci menghabiskan tahun-tahun perkembangannya dalam bengkel lukis Andrea del Verroccio. Dua lukisan paling di kenal adalah Mona Lisa dan Perjamuan Terakhir.
2. Raffaello Sanzio
Lahir di Urbino oleh seorang pelukis terkenal di istana bernama Giovani Santi. Raffaello merupakan murid dari Pietro Perugino. Karya-karyanya dipamerkan oleh pelukis ternama Andrea Mantegna dan Piero della Francesca. Dua karyanya yang paling terkenal adalah Madonna dan Potretnya.
3. Tiziano Vacellio
Tiziano Vacellio atau dikenal dengan nama Titian. Titian banyak melukis orang-orang terkemuka selama kariernya di antaranya, Paus Paulus III hingga Kaisar Romawi Suci Charles V. Titian merupakan seniman terbesar abad 16. Selain melukis dia mahir dalam potret-memotret. Ketika remaja dia bekerja pada Giovanni Belini. Dia melukis agar mendapat royalti di seluruh Eropa di antaranya Raja Philips II dari Spanyol.
4. Michelangelo.
Layaknya Leonardo da Vinci, Michelangelo ahli dalam perdagangan artistik merupakan pemimpin lukisan di antara mereka. Kejadian di Langit-langit dan Penghakiman Terakhir adalah lukisan dinding di Kapel Sistina Vatikan. Michelangelo menyelesaikan fresco megah di Langit-langit kapel dalam kurun waktu empat tahun. Merupakan lukisan dinding yang mengesankan sepanjang sejarah seni Barat.
5. Sandro Botticelli.
Rincian kehidupannya sangat langka. Dia tergabung dalam sekolah Florentine dan magang di bawah Fra Fillippo Lippi dan juga dipengaruhi oleh lukisan monumental Masaccio. Kelahiran Venesia serta Primavera adalah dua lukisan yang di letakkan di Galeri Uffizi Florence. Lukisan itu menggambarkan adegan mitologis. Dua lukisan yang paling di kenal. Selain itu lukisan lain di antaranya, Madonna dan anak, altarpieces dan lukisan-lukisan seukuran tubuhnya yang sangat popular semasa hidupnya.
6. Masaccio
Meski hidup sebentar, Masaccio meninggalkan jejak tak ter hapuskan. Masaccio dilahirkan tahun 1401, dengan keahliannya menghidupkan kembali sosok dan gerakan manusia, dan pendekatannya terhadap perspektif dia sangat berkontribusi dalam melukis. Masaccio dianggap sebagai pelukis renaissance dan pelopor pelukis era modern.
7. Jacopo Comin
Jacopo Comin atau lebih dikenal dengan sebutan Tintoretto karena ayahnya seorang dyer atau dalam bahasa Italia Tintore. Dia mendapat julukan lain Il Furiosso untuk kemarahan yang dia gunakan untuk melukis. Dia dipengaruhi sesama penggunaan warna Titian Venian, serta bentuk energik yang diciptakan oleh Michelangelo. Karya-karyanya memiliki ciri khas pencahayaan dramatis, daya cipta mereka, penggunaan gerakan—narasi berskala besar Perenderannya Perjamuan Terakhir.
8. Giovanni Belini
Anak dari Jacopo. Dia merevolusikan lukisan di wilayah Venesia. Dengan cat minyak cepat kering dia menghasilkan corak yang kaya dan Shading yang detil yang mempengaruhi pelukis lain.
Itulah 8 pelukis renaissance Italia yang
wajib kamu tahu. Sudahkah kamu mengetahuinya?
Sabtu, 09 November 2019
Review Fake Love- Aku, Kau dan Gunpla-nya
Review Novel
Fake Love- Aku, Kau dan Gunpla-nya.
Menikah tak sekadar memenuhi stigma masyarakat untuk memiliki pasangan hidup, ataupun menggenapkan syariat agama. Lalu langsung bahagia seperti kisah romansa putri-putri raja. Tidak.
Menikah merupakan proses adaptasi antara dua manusia asing yang tadinya tak saling mengenal; belajar untuk saling memahami. Belajar arti toleransi dan memaafkan. Saling mengisi dan melengkapi.
Seperti kepingan puzle yang tercerai pada awalnyai, namun akan tersusun apik jika keduanya saling bahu-membahu mengurutkannya perlahan.
Kegagalan terbesar adalah ketika memaksa kedua kepingan puzle yang seharusnya tak saling berdampingan—Fake Love- Aku, Kau dan Gunpla-nya.
Novel Fake Love- Aku, Kau dan Gunpla-nya karangan Shireishou ini menceritakan Arlin. Arlin gadis penyuka bento. Bekerja sebagai blogger membuatnya jarang berinteraksi dengan lawan jenis. Di usia yang sudah matang, tak ada keinginan untuk menikah. Namun, mamanya mendaftarkan Arlin ke sebuah situs biro jodoh online.
Di bab awal berkisah tentang Arlin memutuskan menikah dengan orang yang di kenalnya melalui situs ayonikah.com membawanya pada kisah percintaan dengan Delan.
Ini buku kedua karya Shireishou yang saya baca setelah One Step. Keduanya memiliki ciri khas, kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Pertama yang saya soroti adalah tentang cara penulis yang melakukan riset mendalam tentang bentorang dan gunpla. Terlihat dari cara penyampaian, seakan penulisnya memang sangat mahir dalam membuat bento, sedangkan sepanjang saya mengenalnya, Shireishou ini kurang pandai memasak. Penjabarang tentang gunpla pun mendetil, tetapi enjoy tak berasa dijejali artikel.
“Isssssh ... gue pengin lempar saus puyonghai ke kepala lo biar adem!” (Halaman 9)
“Lo nyebelin.” Delan mengerjap. Nyebelin baginya terdengar sebuah kata yang singkat, padat, tapi nggak jelas—halaman 99.
Penulis mampu menggambarkan karakter tokoh dengan sangat baik melalui narasi maupun dialog. Kita bisa mengenali setiap tokoh dengan mudah.
Penulis juga menyinggung sisi rentan tokoh misalnya pada halaman 10 melalui sosok rietma. Dan pada bagian menjelang akhir. Penulis mampu mengaduk emosi pembaca dengan baik dengan gaya bahasa yang khas. Seakan naik jentera, tadinya melambung tiba-tiba menukik tajam seperti pada halaman 22 tentang kedatangan Jeng Elly. Delan memeragakan angkat beban pada halaman 64.
Namun, ada beberapa kesalahan ketik nama Arlin menjadi Alin pada halaman 65.
Foodcourt tidak di cetak miring—halaman 149.
Mengikuti menjadi menyiku—halaman 160. Namun, tidak terlalu mengganggu. Novel ini cocok banget buat kamu yang suka novel percintaan. Dengan diksi yang keren, tetapi tidak berbelit-belit.
Tak ada cerita yang sempurna, yang ada hanya saja cerita yang sesuai selera pembaca. Karena cerita ini sesuai dengan selera saya.
Saya kasih Rate 4.5/5.
Fake Love- Aku, Kau dan Gunpla-nya.
Menikah tak sekadar memenuhi stigma masyarakat untuk memiliki pasangan hidup, ataupun menggenapkan syariat agama. Lalu langsung bahagia seperti kisah romansa putri-putri raja. Tidak.
Menikah merupakan proses adaptasi antara dua manusia asing yang tadinya tak saling mengenal; belajar untuk saling memahami. Belajar arti toleransi dan memaafkan. Saling mengisi dan melengkapi.
Seperti kepingan puzle yang tercerai pada awalnyai, namun akan tersusun apik jika keduanya saling bahu-membahu mengurutkannya perlahan.
Kegagalan terbesar adalah ketika memaksa kedua kepingan puzle yang seharusnya tak saling berdampingan—Fake Love- Aku, Kau dan Gunpla-nya.
Novel Fake Love- Aku, Kau dan Gunpla-nya karangan Shireishou ini menceritakan Arlin. Arlin gadis penyuka bento. Bekerja sebagai blogger membuatnya jarang berinteraksi dengan lawan jenis. Di usia yang sudah matang, tak ada keinginan untuk menikah. Namun, mamanya mendaftarkan Arlin ke sebuah situs biro jodoh online.
Di bab awal berkisah tentang Arlin memutuskan menikah dengan orang yang di kenalnya melalui situs ayonikah.com membawanya pada kisah percintaan dengan Delan.
Ini buku kedua karya Shireishou yang saya baca setelah One Step. Keduanya memiliki ciri khas, kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Pertama yang saya soroti adalah tentang cara penulis yang melakukan riset mendalam tentang bentorang dan gunpla. Terlihat dari cara penyampaian, seakan penulisnya memang sangat mahir dalam membuat bento, sedangkan sepanjang saya mengenalnya, Shireishou ini kurang pandai memasak. Penjabarang tentang gunpla pun mendetil, tetapi enjoy tak berasa dijejali artikel.
“Isssssh ... gue pengin lempar saus puyonghai ke kepala lo biar adem!” (Halaman 9)
“Lo nyebelin.” Delan mengerjap. Nyebelin baginya terdengar sebuah kata yang singkat, padat, tapi nggak jelas—halaman 99.
Penulis mampu menggambarkan karakter tokoh dengan sangat baik melalui narasi maupun dialog. Kita bisa mengenali setiap tokoh dengan mudah.
Penulis juga menyinggung sisi rentan tokoh misalnya pada halaman 10 melalui sosok rietma. Dan pada bagian menjelang akhir. Penulis mampu mengaduk emosi pembaca dengan baik dengan gaya bahasa yang khas. Seakan naik jentera, tadinya melambung tiba-tiba menukik tajam seperti pada halaman 22 tentang kedatangan Jeng Elly. Delan memeragakan angkat beban pada halaman 64.
Namun, ada beberapa kesalahan ketik nama Arlin menjadi Alin pada halaman 65.
Foodcourt tidak di cetak miring—halaman 149.
Mengikuti menjadi menyiku—halaman 160. Namun, tidak terlalu mengganggu. Novel ini cocok banget buat kamu yang suka novel percintaan. Dengan diksi yang keren, tetapi tidak berbelit-belit.
Tak ada cerita yang sempurna, yang ada hanya saja cerita yang sesuai selera pembaca. Karena cerita ini sesuai dengan selera saya.
Saya kasih Rate 4.5/5.
Langganan:
Komentar (Atom)




